8A37ND – NAIK DANGO

Ritual Hasil Panen oleh Suku Dayak Kanayatn

Prosesi mengantar padi hasil panen ke lumbung penyimpanan padi dalam ritual ‘Naik Dango’

Untuk merayakan rasa syukur kepada sang pencipta, atas hasil panen yang berlimpah, suku Dayak Kanayatn menggelar ritual Naik Dango. Ritual ini dilakukan setiap tanggal 27 April di rumah adat suku Dayak.

Prosesi adat Naik Dango merupakan bentuk aktualisasi kearifan lokal masyarakat Dayak Kanayatn, Kalimantan Barat, sebagai ritual syukur dan menghargai anugerah Sang Pencipta.

Sehari sebelum ritual Naik Dango, masyarakat harus melaksanakan Batutu, yakni memasak beberapa makanan sebagai simbol hasil pertanian masyarakat. Makanan yang diolah yakni beras ketan yang dimasak di dalam bambu berukuran besar dan tumpi (semacam roti cucur).

Tarian pengantar padi hasil panen ke lumbung penyimpanan padi dalam ritual ‘Naik Dango

Upacara adat Naik Dango ditandai dengan menyimpan seikat padi yang baru dipanen ke dalam lumbung padi (dango) oleh setiap kepala keluarga keturunan suku Dayak yang bertani atau berladang.

Setelah diletakkan di dalam dango, selanjutnya dilaksanakan upacara Nyangahatn atau disebut juga Barema, di saat inilah doa-doa Pamane atau tetua adat dipanjatkan kepada Sang Pencipta atau Nek Jubata.

Bagian penting dalam upacara Naik Dango adalah Nyangahatn. Dalam prosesnya Tingkakok Nimang Padi, simbol yang mengingatkan proses turunnya padi dari Jubata atau Sang Pencipta kepada manusia.

Tarian pengantar padi hasil panen ke lumbung penyimpanan padi dalam ritual ‘Naik Dango’

Tahun ini, ritual Naik Dango atau Pekan Gawai Dayak yang ke-37 dilaksanakan di Kabupaten Landak, di rumah Radakng Aya’, Kabupaten Landak

Sumber Berita  : https://kumparan.com